Kayaknya musim hujan mo berakhir…
Aku jadi penikmat semilir angin pagi hari.
Aku kini menjadi milik pagi, bahkan saat matahari belum bangun dari mimpi
Homesickku menjadi-jadi. Tapi terjegal dengan sebuah ilustrasi tentang kemasgulan.
Duh! sepertinya sangat kontras saat diri merasakan sejuk di dini hari.
Masih seperti kemaren-kemaren
Pikiranku meloncat-loncat gak karuan. Mungkin karena terkontiminasi kafein yang selalu kuteguk. Emboh!
Saat mata merem, dingin pagi justru membuat hatiku hangat.
Bermain dan mengembara pada sebuah idelisme yang beranak pinak tak terkendali.
Tiba-tiba aku kangen seseorang, tiba-tiba juga perasaan itu sirna.
Tiba-tiba kepengen pergi ke sebuah tempat bernama masa lalu, tiba-tiba juga aku tidak sabar meraih masa depanku.
Emboh…
Yang pasti, aku selalu ingat, saat kulitku merasakan dingin pagi hari
Aku kangen angin di rumah
Kangen pagi di rumah
Kangen semilir di rumah
Kangen masa kecil saat aku mengenakan piyama donal bebekku
Kangen simbah
Kangen sawah
Kangen saat kepalaku belum sibuk dengan banyak keinginan
Kangen saat aku belum mengerti arti memberontak
Kangen saat aku belum merasakan ketidaksabaran
Kangen segala hal tentang nyanyian baru dari ajaran seorang ibu
Kangen melihat bintang saat atap rumahku entah kemana
————————————————————————————————-
Bukan sebuah Sentimental
Gak terasa kini aku menjadi seorang ibu.
Padahal sepertinya baru kemarin saja aku berhenti menyusu
Kangen ibuku
Dan aku mungin ‘bocah’ paling miskin tentang ingatan tentang ibu
Tidak lebih dari hitungan 10
Ingatanku yang masih tersisa di kepala tentang wanita yang melahirkan aku hanya :
1. Saat ibuku minggat dari rumah, kukejar di pinggir kali. Dari bibirnya selalu terngiang " ibu akan kembali saat kamu jadi pengantin! " dan kenyataannya beliau tidak pernah datang di saat aku merayakan hariku
2. Saat kami berbaring berdua, atap rumah kami belum jadi. Kami tidur beratap langit dan bintang. Dinding yang mengitari kami hanya 2 buah lemari kuno serta tumpukan batu bata. kuingat saat itu, kutanyakan asal muasal bapak bertemu ibuku. Ibuku bercerita hingga aku terlelap. Namun kemudian aku dibangunkan, ibu mengungsikanku ke tempat saudara saat dini hari, menyempatkan membawa beberapa baju ganti. Hujan rintik saat itu ternyata!
3. Ibu mencubitku. Aku yang urakan dan paling sebal dengan baju berpayet yang berisik. Bikin gerah, lengan, leher dan punggungku tidak nyaman. Polahku terbatas. Ibu bilang aku cantik seperti cinderela dengan baju itu. Aku tidak suka dengan baju itu. Aku tidak suka menjadi seperti cinderela. Aku suka kaos oblong merahku. Kaos oblong merah yang karib dengan celana pendek olah raga yang sedikit koyak di bagian pantatnya. Sungguh, aku suka bajuku yang itu. Membuatku bebas, melompat, memanjat, berguling maupun bersalto ria. Dengan baju cinderela aku tidak bisa berlari, tidak bisa memanjat, tidak bisa melompat, tidak bisa duduk semaunya. Gerak sedikit saja membuatku panas, bergerak banyak membuatku ingin mandi. Aku harus duduk manis. Kata ibu. Tapi tidak! aku tidak betah, aku suka melompat, berlari, memanjat, menjerit dan bersalto. Ibu mencubitku berkali-kali. Sangat berkesan. Selalu terekam. Teringat selalu. Aku tidak suka menjadi anak manis. Dan ibuku yang ingin anaknya seperti cinderela hanya menghasilkan sebuah foto kenangan masa itu seperti perpaduan senyum, sakit serta pedasnya dicubit berkali-kali. Waktu itu mau ke semarang. Siksaan yang teramat karena aku harus menjadi cinderela Manhattan-Semarang-Manhattan. Syukurlah, foto wajah anehku yang seperti menyeringai separo tersenyum separo menahan tangis itu kuberikan pada Arita Panca Susana, teman SDku, 1 tahun setelah ibuku meninggal.
4. Aku dimarahi ibu. Gara-gara memenangkan kompetisi tinju dengan kaos kaki melawan sodara kembarku. Penghargaan yang tidak patut dibanggakan selain membuat sodaraku cuci muka karena kalah telak dan meninggalkan bau daki kaki di seputaran mukanya.
5. Dicubit ibu lagi. Gara-gara maen belom mandi dan sarapan. Aku dan kembarku main di tempat Handan. Maen kartu. Ibu mencari, kami sembunyi. Ketahuan dan ibu marah-marah. Mencubit. Kami bilang kami pengen nonton Doraemon. Ibu bilang mandi dan sarapan dulu. Aku ngeyel. Doraemonnya nanti habis. Ibu malah marah, aku dicubit. Lalu meminta kami nonton Album Minggu dan Aneka Ria Safari di rumah saja. Kusesali waktu itu, mengapa kami tidak punya tivi berwarna.
6. Aku mungkin anak pungut. Itu kataku pada Bahriatul Ulum sobatku di kelas 5. Mengapa begitu? karena ibu semakin galak. Sering marah-marah, sementara pada sodara kembarku tidak. Ibu rewel. Suka terbaring di kursi panjang belajarku. Ibu bilang sakit. Sering juga bilang aku anak susah diatur. Meski begitu, ibu selalu membiarkan aku sembunyi di ketiaknya saat guntur menggelegar di saat hujan. Ibu meski sering mencubit tetap memberiku kepala ayam goreng sebagai lauk. Ibu masih sering bikin bihun goreng dan proll tape kesukaanku. Entah mengapa aku masih sering berfikir aku anak pungut waktu itu. Terutama saat ibu kumat galaknya.
7. Ibu memberiku uang sepuluh ribu untuk diberikan ke mbah Toyib. Gara-gara aku makan ayam gorengnya mbah Toyib satu tas kresek tanggung. Aku tidak mencuri. Ayam goreng satu tas kresek itu dibawa si Manis ke rumah. digigit ujungnya dan diseret-seret. Kubuka, ada ayam goreng yang masih hangat. Lalu kumakan, si Manis kutendang. Ternyata mbah Toyib teriak-teriak kehilangan ayam gorengnya. Bertanya pada ibuku, karena hanya ibu yang punya 11 kucing dan 6 anak yang beberapa di antaranya nakal-nakal. Lalu, ibu hanya memberiku uang sepuluh ribu untuk diberikan ke mbah Toyib sebagai ganti ayam goreng yang sudah kutelan.
8. Ibu marah lagi. Gara-gara kucolokkan jariku ke stop kontak listrik di kamar rumah sakit tempat ibuku dirawat. Sebal! Ibu bilang aku anak nakal, urakan, sembrono dan gak bisa diem.
Sepertinya itu saja kenangan yang masih tersisa tentang ibuku. Miskin sekali ya!?
Aku nggak mau anakku juga miskin kenangan dengan aku. Setidaknya, aku mau berumur panjang, bisa puas bermain bersama anakku. Aku akan mendampinginya saat dia kelak menjadi pengantin. Menjadi tempatnya mencurahkan tentang apa saja. Menjadi tempatnya mencari jawab lelaki mana yang ingin diterimanya menjadi pacar.
Aku mau anakku kaya tentang ingatan dan mimpi bersama ibunya…
Aku mau, menjadi ibu yang baik, yang tidak memaksakan anaknya menjadi cinderela, aku mau bisa menimang anak dari anakku, aku mau anakku mempunyai ibu untuk mendampinginya saat wisuda S1, S2 hingga S3nya kelak….
Aku mau anakku bilang ke kawan-kawannya : "Aku memiliki teman sahabat yang kupanggil ibu. Ibuku wanita yang hebat !"
Itu saja….